Prof. Dr. H. Agussani MAP tidak hanya seorang Guru Besar Ilmu Sosial yang dikukuhkan pada 18 Desember 2021. Kurang setahun sebelumnya, Agussani adalah juga seorang datuk berjuluk Datuk Mahesa Mukti yang disemat Kesultanan Negeri Serdang pada 2 Agustus 2020. Kedua gelar itu adalah sebuah penghormatan atas kiprah yang dilaksanakan. Yang satu adalah gelar jabatan akademik fungsional dan yang satu lagi adalah gelar adat salah satu suku bangsa di Indonesia. Gelar itu seperti sebuah simbol yang menunjukkan suatu tanda yang lain lagi, relasi dari suatu relasi: rintisan panjang seperti jalur maraton, berliku, beronak, tetapi juga penuh gairah dan menyegarkan.
***
Prof Agussani lahir di desa Muara Uwai, Bangkinang, Riau, 18 Agustus 1954. Dia adalah anak tunggal dari pasangan Haji Said Ali dan Darisah. Ayahnya seorang pedagang yang biasa menyeberang ke Singapura dan Malaysia. Sedangkan ibunya adalah seorang aktivis Aisyiyah yang kemudian menjadi Ketua Aisyiyah Bangkinang.
Berdagang adalah salah satu mata pencaharian utama suku Melayu waktu itu di Riau dan kepulauan. Demikian juga kedua orang tua Agussani. Otomatis, dia dibawa ke mana-mana oleh orang tuanya terutama ibunya Darisah dan membuatnya biasa dijuluki “anak ayam satu ekor”. Wilayah Tanjungbalai Karimun, Tanjung Batu, Selat Panjang, dan Bengkalis dan wilayah Riau pada umumnya yang dulu didatangi untuk berdagang, sudah terhafal baku di benak Agussani kecil. Itu membuat perdagangan dan menjalin hubungan baik dengan orang lain adalah hal yang sudah mengalir deras dalam pakem Agussani. Sejak lama dia tidak hanya belajar soal menjalin hubungan, suatu relasi, tetapi juga lebih dalam dari itu: suatu silah.
Sempat juga Agussani mencoba berdagang es lilin dan koran di Muara Awai. Tetapi yang paling lama adalah menjadi seorang “reporter” bioskop: pemanggil keliling memakai toa agar warga menonton film di bioskop Anak Desa Bangkinang (ADB) miliknya Haji Hasan Basri atau Mak Adang. Dia dapat merasa seperti reporter TVRI zaman dulu, Sambas Mangundikarta, idolanya. Dia juga ingin seperti itu. Lebih dari itu, jejak-jejak ini meneguhkan bahwa kemandirian, komitmen, dan kerja keras bukanlah suatu hal yang datang dengan tiba-tiba.
Tetapi, menjadi seorang reporter tampaknya kontras dengan kehidupan Islamis yang begitu kuat baik di keluarga dan Riau pada umumnya. Ibunya tak suka. Agussani menuntut ilmu di madrasah Himpunan Putra Putri Islam (HPPI) Kampar lalu pernah juga mencicipi pesantren Daarun Nahdhah. Tak lama, dia dipindahkan ke Mu’allimin Muhammadiyah Bangkinang yang waktu itu dikepalai H Abdul Salambin Yudo atau Kuok. Lidahnya sudah fasih mengaji Al-Quran sejak kecil dan itu kelihatan membekas ketika Agussani menjadi imam shalat di waktu sekarang. Saking membekasnya, dia masih ingat dengan nama guru mengajinya: Ustadz Amirullah. Termasuk nama-nama qori yang disebutkan gurunya itu, Ustadz Sarkawi dan Abdul Manaf. Dia juga masih ingat nama guru lain, Ustadz Miarif yang mengajarinya Ushul Fiqh dan Nazib Ibrahim yang mengajar demografi. Reporter bioskop tetap dijalani hingga dia tamat Muallimin dan akan pergi merantau ke Kota Medan.
Medan adalah kota tujuan utama di Pulau Sumatera. Dia menghadap Mak Adang, bos bioskop ADB. Istri Mak Adang, Hajjah Nursiah Usman senang mendengar niatnya akan merantau sekolah. Nursiah memberinya tambahan ongkos sebesar Rp30.000. Agussani diantar oleh ibunya Darisah menggunakan bus Sibual-buali. Tetangga di kampung turut mengantar di perhentian bus. Begitulah, dua hari tiga malam kemudian, Agussani pun tiba di Medan.
Dia masuk ke SMA Muhamadiyah 1 Medan di Jalan Sutrisno dan mengekos di rumah saudaranya, di Jalan Sempurna Medan. Ibunya sudah balik lagi ke Bangkinang. Agussani lalu bekerja menjadi apa saja di SMA tersebut: penjaga malam, cleaning service, membuat air minum guru, pengantar surat, hingga kemudian menjadi tata usaha. Setamat dari SMA Muhammadiyah 1, Agussani kemudian melanjut kuliah di Fakultas Kesejahteraan Sosial (sekarang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/FISIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) pada 1976. Sembari kuliah, dia tetap bekerja di SMA Muhammadiyah 1 Medan. Di kampus inilah, Agussani menegaskan tapaknya menjadi salah seorang tokoh di Sumatera Utara.
***
Setelah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di kampus, Agussani aktif di Pimpinan Daerah (PD) Pemuda Muhammadiyah (PM) Kota Medan dan PW Pemuda Muhammadiyah Sumut. Dia sempat menjadi Bendahara PWPM Sumut di masa kepemimpinan Drs. H. Asraruddin ZA (Ketua) dan Zulfikri Bustami (Sekretaris). Saat itu, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah adalah Prof. H.M. Din Syamsuddin. Setelah itu, dia menjadi Sekretaris Majelis Pembina Kesehatan (1995-2000) dan Majelis Pengembangan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat (2000-2005) PW Muhammadiyah Sumut. Di periode ini, dia ditunjuk sebagai Sekretaris Panitia Pelaksana Pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah Sumut di di Jalan Mandala By Pass Medan. Tidak hanya mencari dana, keahliannya dalam tata usaha membuatnya mampu mengurus surat-surat dan administrasi tanah RS Muhammadiyah Sumut. Surat sertipikat tanah RS Muhammadiyah Sumut atas nama Muhammadiyah pun keluar pada 2008. Ini juga soal membina jaringan, soal silah tadi.

Agussani menjabat sebagai Rektor bukan dalam keadaan kampus yang mudah. “Waktu itu UMSU sudah berdiri, tetapi kita harus menyadari bahwa saat itu sangat sulit. Ada beberapa poin masalah, terutama UMSU dalam posisi berutang. Bagaimana (cara) menjalankan tugas ini? Ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Maka untuk itu, pada saat yang berbahagia ini, sekali lagi saya menyampaikan saya berterimakasih yang tak terhingga kepada PP Muhammadiyah dan PP Aisyiyah yang telah memberi amanah kepada saya selama 16 tahun…” demikian di antara yang disampaikan Prof Agussani dalam pelantikan Rektor UMSU Periode 2026-2030 Prof Dr Akrim MPd pada akhir April 2026 kemarin.
Namun, amanah adalah tugas yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Agussani punya nilai lebih. Dia mengetahui seluruh seluk-beluk UMSU karena dirinya sudah menjadi mahasiswa UMSU sejak 1976 lampau. Agussani adalah orang yang telah bertemu langsung dengan enam rektor sebelumnya: H.M Bustami Ibrahim (1972-1977), H.T.A.Latief Rousydy (1977-1981), dr.H. Dalmy Iskandar (1981-1999). Drs. H. Chairuman Pasaribu (1999-2003) dan H.Bahdin Nur Tanjung, S.E., M.M., (2003-2010). Dia mengambil pelajaran dan menjalin silah dengan seluruh pimpinan UMSU yang mempunyai ciri khas personal dan kepemimpinan masing-masing tersebut.
Agussani memimpin kampus UMSU dengan situasi yang tidak “setenang” sekarang. Demonstrasi dulu sering terjadi. Namun, dia menghadapinya dengan kepala dingin dan ya itu tadi, berhasil menjalin hubungan baik dengan siapapun seperti bekal yang telah dilihat dan dibawanya sejak kecil. Silaturahim dengan kelompok kontra terus dijalankan sembari memperkuat hubungan internal. Dia kemudian membereskan satu persatu persoalan kampus UMSU dan lalu mematok target untuk kemajuan UMSU ke depan.
Secara institusi, Agussani langsung mematok target akreditasi A untuk level perguruan tinggi. Berhasil di titik itu, dia kemudian mematok akreditasi unggul. Kesemuanya tercapai. Utang dilunaskan. Bahkan saat ini, aset UMSU sudah mencapai level triliun. Agussani juga membangun kampus Fakultas Kedokteran dan Pascasarjana, sembari memperluas kampus menuju Kampus UMSU terpadu. Tentu ini bukan soal kecanggihan, ataupun soal sulap, melainkan kerja keras, komitmen, dan tetu saja tata kelola universitas. “Saya masih ingat pesan dari PP Muhammadiyah waktu pelantikan saya di 2010 itu, yaitu tata kelola,” kata Agussani.
Karena itu, ini adalah kisah dengan rentetan yang sangat panjang saat melihat UMSU yang telah berdiri sejak 1957 dengan awal hanya Fakultas Falsafah dan Hukum Islam Muhammadiyah (FAFHIM) sebagai kelas kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Lalu, menjadi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Sumut pada 1 Agustus 1968 yang mengasuh tiga fakultas yakni Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah (FIAD), dan Fakultas Syariah. Kemudian, menjadi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) pada 17 Februari 1972 (dengan F-IAD/menjadi F-Ushuluddin, Fakultas Syariah, FIP dan Fakultas Kesejahteraan Sosial).
Di bawah kepemimpinan Prof Agussani, UMSU kini telah memiliki sembilan fakultas yakni Pertanian, Teknik, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Hukum, Agama Islam, Ekonomi dan Bisnis, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Kedokteran, dan Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, serta Sekolah Pascasarjana yang menyelenggarakan pendidikan S2 dan S3. Prestasi dan keunggulan UMSU, mahasiswa dan alumninya, baik di tingkat lokal, nasional, dan internasional; rekognisi dan pengakuan; serta yang lain-lain, sudah sering disampaikan, telah selalu ditulis orang. Jadi, tak usah lagi diulangi di sini: dia sudah menjadi sejarah.
Kesemua prestasi dan pertambahan nilai seperti di atas, tentu saja mudah ditulis, tetapi sungguh tak mudah untuk dijalani. Apalagi, UMSU bukanlah berdiri di atas tanah kosong. Dia adalah Amal Usaha Muhamadiyah (AUM). Di sinilah Agussani mempunyai filosofi “Amal Usaha Muhammadiyah Bergerak Maju Bersama Persyarikatan”. Menurut Agussani, filosofi ini mengandung tiga makna yaitu pertama pemangku amanat di AUM mesti menyadari bahwa amal usaha yang sedang dipimpinnya adalah milik Muhammadiyah; kedua, AUM mesti berangkat dari Muhammadiyah, oleh Muhammadiyah, dan untuk kepentingan dakwah Muhammadiyah; dan ketiga, nilai-nilai ideologis Muhammadiyah mesti menjadi landasan filosofis gerak dan langkah AUM. AUM menjadi motor dalam kepentingan dakwah persyarikatan, dan sebaliknya, seluruh sivitas akademika UMSU wajib melaksanakan dan mengamalkan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan yang menjadi ruh dan ciri khas Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).
Agussani menginginkan UMSU tidak berjalan sendiri, melainkan semua harus berkolaborasi untuk memajukan persyarikatan sampai ke cabang dan ranting serta dilakukan pendampingan. Di antara yang paling sederhana misalnya dengan menerjunkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dengan turun ke sekolah-sekolah Muhamadiyah dan umum.
***
Kini Prof Agussani diamanahi sebagai Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) UMSU 2026-2030. Amanahnya justru kian tidak ringan. Orang-orang mungkin masih hanya menyebut Prof Agussani sebagai “seorang rektor”. Namun jangan lupa, Agussani memikul amanah itu dulu dalam kondisi kampus yang minus: utang yang wajib dibayar dan kampus yang harus ditata ulang. Bersama pimpinan yang lain, Agussani memimpin dan berhasil membalikkan situasi minus itu: seluruh utang dilunaskan, aset berlipat dan tersusun rapi, dan menjadikan kampus UMSU bukan hanya menjadi yang terbaik di Sumatera Utara melainkan salah satu kampus Muhammadiyah terbaik di Indonesia. Dari yang lemah menjadi kuat akar, batang dan buahnya.
Itu bukanlah suatu trik sulap, bukan pekerjaan satu dua hari. Memanglah bukan kerja satu orang pula, tetapi Agussani-lah yang memimpin kerja besar itu. Satu tugas telah ditunaikan berikut bunga dan buah yang telah dinikmati begitu banyak orang. Ketika satu amanah telah ditunaikan, tugas lain sudah mengantri pula. “Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain),” demikian tertulis di Alquran dalam surah Al-Insyirah.
Jadi, untuk seorang seperti Prof Agussani, tampaknya ini bukan titik, tetapi masih koma. Jalinan hubungan yang masih terus dan harus berjalan: sebuah silah. (*)


