Pembual

ILUSTRASI. [foto: net]

SIAPA di antara kita yang tidak pernah membual? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, hanya ada seorang saja di muka bumi ini yang diberi gelar oleh masyarakatnya sebagai “al-Amin”, orang jujur dan karenanya terpercaya. Kita sama-sama tahu beliau siapa dan beliau sudah wafat seribuan tahun lampau: Muhammad (SAW) al-Mustafa, orang yang terpilih, the choosen one. Allahuma shalli ala Muhammad, wa ali Muhammad.

Beda dengan masa sebelum dan sesudah beliau, gelar lebih pada klaim sepihak, dari dirinya sendiri ataupun dari kelompok pendukungnya. Beliau tidak. Dia disematkan oleh masyarakat yang tahu benar mengenai dirinya.

Jenis masyarakatnya ini pun khas pula. Itu adalah masyarakat jahiliyah: sebuah era kebodohan dan pembodohan yang menggumpal, penipuan yang begitu didgaya, sehingga kezaliman dan kesewenang-wenangan berkembang biak dengan suburnya. Masyarakat yang memerturutkan ide bahwa manusia adalah segala-galanya, sentra dari seluruhnya dan karena itu dia bebas dan boleh berbuat apa saja.

Perbudakan dan kezaliman di masa jahiliyah itu dibingkai dengan pembenaran terhadapnya. Mereka membual ke masyarakat dan kelompoknya bahwa hal itu dibenarkan. Masyarakat awam yang tak punya kuasa, terpaksa ikut dalam bualan itu dan lama-kelamaan membenarkannya pula.

Bualan-bualan telah tumbuh sebagai kebenaran dan tak ada pula yang mempunyai kuasa untuk menyingkap bualan itu. Selain tak punya kuasa politik dan ekonomi, “kasta” rendah memang tak punya kuasa untuk memancarkan sinar kebenaran. Pengetahuan telah diplot menjadi milik kaum elit.

Pengetahuan itu pun wajib pula diejawantah melalui struktur bahasa yang ditinggi-tinggikan, disuci-sucikan: semakin bahasa itu tidak dimengerti awam, maka kandungan pengetahuannya pun diklaim kian tinggi kian dalam. Bahasa awam telah didesain bukan bahasa pengetahuan.

Berbahasa pun, dengan demikian, menjadi salah satu tanda elitis. Maka, yang paling sering membual, tentu saja mereka yang telah memiliki kuasa atas bahasa.

Konsekuensinya, para penerjemah dan penafsir bahasa akan kian tinggi kedudukannya. Semakin “diam” berhala-berhala itu, maka hanya para pendeta berhala-berhala itulah yang boleh dan berhak memahami diamnya berhala-berhala itu.

Diamnya berhala-berhala itu lalu dianggap sebagai sebuah kelaziman bagi awam. Itu karena sesuatu yang besar dan disucikan, tidaklah mungkin akan berbicara dengan kaum jelata dan berbahasa awam yang “rendah dan kotor”.

Para pendeta berhala-berhala itu, tak ayal, telah memeroleh akses dan kedudukannya bukan karena dia memang mampu memiliki kemampuan bahasa. Para pembual itu sama-sama paham, diamnya berhala itu adalah diam yang sesungguhnya. Berhala memang tak pernah berbicara. Merekalah yang membuat si berhala mempunyai kuasa suci.

Dan karena itu pula, tingginya kedudukan para pendeta berhala itu bukan tak ada pencetusnya. Bukan si dewa pendiam tadi, tetapi karena ada yang memberi posisi kekuasaan kepada mereka. Pemberi kuasa inilah pembual sejati yang merekayasa struktur religi pada kekuasaannya. Para pendeta berhala memerlukan backing, dan pada banyak cerita sejarah, justru mereka memang sengaja diciptakan.

Karena para pemuja adalah rakyat biasa, para jelata, maka demokrasi sesungguhnya angan-angan belaka dalam cerita kekuasaan jahiliyah. Dia tak pernah ada dalam kekuasaan karena ini adalah kerajaan pembual.

Dalam masyarakat pembual itu, kemunculan al-Amin, adalah keterperangahan. Dia muncul dari sebuah kerinduan akan kejujuran. Dengan derajat kejujuran paripurna itu, maka sesuatu yang keluar dari mulut al-Amin juga adalah kesucian. Sebaliknya, tidak mungkin sesuatu yang suci keluar dari mulut para membual.

Dengan al-Amin, bahasa yang tadinya dibuat sedemikian elitis, menjadi suci kembali, lepas dari stratifikasi kelas; awam kini dapat memahaminya. Kejujuran dan kesucian penutur bahasa adalah oposisi paling pertama terhadap kejahiliyahan sebelum substansi lain tercetus.

Awam pun merasa dirinya begitu dihargai dan dihormati dengan bahasa yang suci itu. Dan karena itu, lebih banyaklah yang menerima dan masuk ke dalam apa yang dituturkan oleh al-Amin tadi daripada mereka yang lebih suka memanipulasi bahasa. (*)


[iwan.indhie]