“Et tu, Brute?” tanya Caesar.
***
LUCU benar tingkah para minion dalam film Minion (2015). Visual mereka juga menggelikan: berkulit kuning, kepala besar, kaki kecil. Sebelumnya, karakter ini mengemuka di hadapan anak-anak dalam film animasi yang juga sangat lucu, Despicable Me (2010) dan Despicable Me 2 (2013). Mereka adalah pengikut, pembantu tuan mereka yang berada di ruang kejahatan; Felonius Gru.
Gru adalah karakter yang menjadi ikon sekaligus pusaran utama film yang sifatnya menjadi judul pula dalam film itu; despicable, keji. Namun, ruang animasi anak-anak membuat makna despicable yang “keji” dan “kejam” itu menjadi turun nadanya, menjadi lembut dan bahkan lucu. Bagaimana bisa seorang yang keji dianggap lucu? Humor dengan level seperti itu memang bukan makanan awam. Lagipula, anak-anak mana pula yang memersalahkan itu.
Kamus Oxford memberi arti pada minion sebagai a follower or underling of a powerful person, especially a servile or unimportant one. Dalam pemakaian kata Inggris, minion pun dapat bersikap sebagai idiom untuk menggantikan istilah lain seperti servant ataupun servile. Dia bermakna pengikut, followers dan setia. Bagi para minion, khazanah nilai moral tidak ada. Moral bagi mereka adalah master-nya itu sendiri.
Namun, karakter pengikut para minion tidak pula seperti para followers-nya twitter ataupun facebook yang pasif dan bisa dilakukan hanya dengan memencet satu tombol saja. Tidak. Minion adalah budak yang aktif, melaksanakan seluruh perintah dan bahkan terkesan hiperaktif sehingga kadang-kadang si Master sendiri terheran-heran ketika dia menemukan para pembantunya beraktivitas di luar kendalinya. Meski, si Master sendiri tahu bahwa karakter minion itu sudah terpatri dalam bilik kepatuhan; yang mereka lakukan sesungguhnya adalah untuk menyenangkan si Master.
Kadang-kadang, ini pula yang tidak kita temukan ketika melihat kasus yang menjatuhkan para pejabat. Ketika berkuasa dijilat sampai bersih oleh para pendukung dan ketika hendak jatuh (apalagi sudah jatuh) ditinggalkan beramai-ramai.
Tak hanya meninggalkan, bahkan dia punya kemampuan berubah wajah dengan menghujat tuan yang dikhianatinya itu dengan menyusun justifikasi atas perilakunya. Kemudian, dia segera berdiri di belakang tuannya yang baru. Mereka mengambil perilaku hering atau nazar, burung pemakai bangkai yang semakin bau bangkainya akan semakin berdegup pula jantungnya menunggu bangkai itu melewati kerongkongannya.
Mereka ini bukan minion karena dalam minion mengalir darah kesetiaan. Laksana serigala yang menjadi salah satu hewan yang paling loyal kepada kelompoknya, pengkhianatan tidak ada dalam kamusnya. Dalam Despicable Me 2, ketika musuh Gru, Eduardo “El Macho” Pérez, ingin memakai jasa minion, musuhnya itu tahu benar kalau para minion tidak akan mau berpindah tuan begitu saja. Mula-mula dia meminta kepada Gru, tapi ditolak. Lantas, dia mengambil jalan lain: menculik para minion. Sayangnya, tidak bisa sesegera itu juga minion menjadi patuh kepadanya. EL Macho harus memanipulasi mereka sehingga mereka sama sekali tak mengenal Gru, si master asli.
Minion bertolak belakang dengan Judas Iscariot, pengkhianat yang kemudian mati gantung diri. Atau, Marcus Junius Brutus. Dia adalah salah seorang pengikut Julius Caesar sekaligus pengkhianat terbesar dalam sejarah Romawi. “Et tu, Brute? (Kau juga, Brutus?)” adalah pertanyaan Caesar yang tragis saat melihat Brutus ada di barisan para pembunuhnya. Pertanyaan Caesar itu memang tak memerlukan jawaban. Pertanyaan retorik yang menggambarkan ketidakpercayaan, kesedihan mendalam terhadap pengkhianatan Brutus: seorang anak didik, pengikut, dan juga seorang temannya. Namun pertanyaan itu juga menggambarkan sebuah konsekuensi kekuasaan yang sangat dipahami Caesar; selalu ada pengkhianatan dari dalam diri kekuasaan. Brutus telah menjadi semacam gong yang melengkapi baju zirah kekuasaannya. Pengkhianatan Brutus adalah keping terakhir dari puzzle kekuasaan yang sebelumnya telah tersusun dalam kemegahan, keagungan, kehormatan.
Begitulah. Dalam lakon besar kekuasaan, adegan pengkhianatan sejatinya memertontonkan pertarungan dari dalam diri penguasa itu sendiri yang dioper ke atas panggung tontonan sejarah. Dia adalah pertarungan di dalam jiwa manusia yang kemudian direka dalam karakter, peran, dan alur sebuah drama.
Tidak ada kekuasaan tanpa pengkhianatan. Karena dia selalu ada, dia kemudian menjadi hal yang lumrah dan biasa meski sering dikisahkan dengan tragis, didramatisir untuk menguras emosi. Dia adalah rutinitas kekuasaan.
Juga, saat para hulubalang kemudian berlomba-lomba berubah ke wajah aslinya sebagai panglima talam yang bersiap-siap mengamankan posisinya. Semua tokoh pun mendekat kepada raja yang baru. Karena para pengkhianat selalu adalah orang yang paling dekat dengan penguasa, maka pada saat itu terjadi, pengkhianatan baru sejatinya sedang disusun ulang kembali dari awal. (*)
[iwan.indhie]


