Metamorfosis Leviathan: Kunci Bertahannya Kapitalisme Global

Dr. Mujahidin. [foto: ist]

Oleh: Mujahiddin
Associate Professor pada Bidang Studi Pembangunan
FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)

***

DALAM diskursus sosiologi politik makro, salah satu teka-teki paling krusial abad ini adalah daya penyandaran diri (resilience) kapitalisme yang tampak absolut. Sejak Karl Marx meramalkan keruntuhan kapitalisme dalam Das Kapital akibat kontradiksi internalnya, sistem ini tidak hanya bertahan, melainkan justru semakin mengakar kuat. Ketika tatanan alternatif seperti komunisme Soviet tumbang akibat rigiditas strukturalnya pada akhir abad ke-20, kapitalisme justru merayakan kemenangannya dengan merambah ke segala lini kehidupan manusia modern. Ketangguhan ini memunculkan pertanyaan mendasar: Mengapa kapitalisme selalu menang, dan bagaimana sistem ini mampu secara konstan mentransformasikan dirinya ke dalam berbagai bentuk yang baru?

Ilustrasi [sumber gambar: sampul buku Leviathan karya Thomas Hobbes, dilukis Abraham Bosse | edit: indhiemedia.com]
Kekuatan Ontologi
Kekuatan utama kapitalisme tidak terletak pada kesempurnaan moral atau keadilan distribusinya, melainkan pada karakter ontologisnya yang sangat cair (liquid), adaptif, dan oportunistik. Sosiolog Zygmunt Bauman menggambarkan modernitas kita sebagai “modernitas cair”, suatu kondisi di mana semua struktur sosial meleleh dan berubah bentuk sebelum sempat mengkristal. Kapitalisme adalah motor utama dari pencairan tersebut. Berbeda dengan feodalisme atau sosialisme negara yang kaku dan tersentralisasi, kapitalisme beroperasi laksana organisme biologis yang terus bermutasi guna merespons resistensi lingkungan dan krisis internalnya sendiri.

Hal ini menciptakan kemampuan bertahan hidup kapitalisme yang tak terbatas. Jürgen Habermas dalam bukunya colonization of the lifeworld menyebut ini sebagai bentuk komodifikasi. Di mana kapitalisme secara agresif mengubah ranah-ranah sosial yang dulunya steril dari logika pasar menjadi komoditas ekonomi yang bernilai sirkulasi modal. Ketika pasar barang-barang fisik mulai mencapai titik jenuh, kapitalisme beralih mengkolonisasi sektor jasa, pengalaman, hingga emosi manusia.

Pada era kekinian, kapitalisme tidak lagi sekadar mengeksploitasi alam atau tenaga kerja fisik, melainkan mengklaim pengalaman manusia secara sepihak sebagai bahan baku gratis untuk diterjemahkan menjadi data perilaku. Perhatian (attention), privasi, dan interaksi psikologis kita kini dikomodifikasi melalui algoritma digital demi keuntungan korporasi teknologi raksasa. Fleksibilitas kapitalisme terbukti dari kemampuannya mengubah medium non-material menjadi ladang akumulasi modal baru yang sangat masif.




Krisis Sebagai Jalan Perkembangan

Kemampuan regenerasi kapitalisme dapat dijelaskan melalui tesis Joseph Schumpeter mengenai Creative Destruction (Penghancuran Kreatif). Schumpeter berargumen bahwa krisis dalam kapitalisme bukanlah tanda-tanda kematian, melainkan mekanisme pembersihan internal yang niscaya. Ketika sebuah model bisnis, teknologi, atau struktur pasar mengalami kejenuhan dan usang, kapitalisme secara inheren akan melahirkan inovasi baru yang secara kejam menghancurkan tatanan lama demi membangun fondasi pasar yang lebih luas.

Melalui proses inilah kapitalisme berevolusi secara periodik seiring dengan Revolusi Industri. Dari Kapitalisme Merkantil yang mengandalkan jalur perdagangan kolonial, sistem ini bermutasi menjadi Kapitalisme Industri (1.0 & 2.0) yang mengandalkan mesin uap dan produksi massal. Ketika batas-batas fisik produksi industri mulai mencapai titik nadir, sistem ini kembali bermutasi menjadi Kapitalisme Finansial dan kini Kapitalisme Digital (3.0 & 4.0), di mana spekulasi abstrak, otomatisasi, dan kecerdasan buatan menjadi motor penggerak utama. Krisis ekonomi bukanlah akhir dari sistem, melainkan katalis untuk lompatan mutasi berikutnya.

Secara politik, daya tahan kapitalisme bersumber pada kelenturannya dalam menghadapi resistensi sosial. Jika sistem otoriter cenderung mematahkan protes hingga akhirnya patah sendiri, kapitalisme justru memiliki kemampuan unik untuk menetralisir, menyerap, dan mengkooptasi kritik menjadi produk baru yang menguntungkan. Sosiolog Luc Boltanski dan Ève Chiapello dalam The New Spirit of Capitalism menunjukkan bagaimana tuntutan emansipatoris dan kritik budaya terhadap kapitalisme pada tahun 1968 (seperti tuntutan akan otonomi, kreativitas, dan kebebasan individu) justru diserap oleh kapitalisme untuk merombak struktur manajemen korporat modern yang kini fleksibel dan informal.

Kapitalisme menunjukkan elastisitas politik yang luar biasa. Ketika buruh abad ke-19 mengancam stabilitas sistem, kapitalisme berkompromi dengan mengadopsi konsep Welfare State (Negara Kesejahteraan). Ketika krisis ekologis mengancam hari ini, sistem ini melahirkan Green Capitalism (Kapitalisme Hijau) lengkap dengan komodifikasi perdagangan karbon dan teknologi ramah lingkungan. Bahkan, narasi-narasi anti-kapitalisme pun sukses dikemas menjadi komoditas populer di pasar global.

Ketahanan ini juga ditopang oleh struktur tata kelolanya yang terdesentralisasi. Berbeda dengan sosialisme negara yang mengandalkan komando terpusat yang kaku dari birokrasi partai, kapitalisme digerakkan oleh jutaan aktor mandiri yang beroperasi berdasarkan pemaksimalan insentif pribadi. Ketika satu elemen atau korporasi mengalami kebangkrutan akibat salah kalkulasi, kegagalan tersebut bersifat lokal dan posisinya akan segera digantikan oleh aktor lain yang lebih adaptif. Desentralisasi ini memberikan ketahanan sistemik yang luar biasa terhadap guncangan eksternal.

Penutup
Pada akhirnya, analisis sosiologi politik menunjukkan bahwa kapitalisme selalu menang bukan karena sistem ini berhasil menciptakan harmoni sosial atau keadilan distributif yang ideal. Kapitalisme menang karena ia membumi pada insting bertahan hidup, kompetisi, dan hasrat akumulasi material manusia, lalu melembagakannya ke dalam struktur yang sangat fleksibel. Melalui kemampuan komodifikasi yang tak terbatas, mekanisme penghancuran kreatif, dan elastisitas politik dalam menyerap kritik, kapitalisme membuktikan dirinya sebagai sebuah “Leviathan yang cair”—sebuah tatanan yang selalu mampu melahirkan dirinya kembali dari abu krisis yang ia ciptakan sendiri. (*)


sumber: Mujaiyah’s Blog