MEDAN – indhiemedia.com | Sumatera Utara (Sumut) menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah ke-49 tahun 2027. Dari lintasan sejarah, Kota Medan sebagai ibukota Sumut, bukan pertama kali akan menjadi tuan rumah agenda rapat tertinggi di Muhammadiyah. Sebelumnya, pada 19-25 Juli 1939, Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah melalui Kongres ke-27 di Malang tahun 1938 juga menetapkan Medan sebagai tuan rumah kongres selanjutnya.
Dilansir dari situs resmi Muhammadiyah, dalam catatan Ma’loemat Penjelesaian Congres ke 28 di Medan oleh Hoofd Comite Congres atau Komitem Utama Kongres ke-28 disebutkan, Cabang Medan telah meminang menjadi tuan rumah kongres sejak Kongres ke-25 di Betawi (Jakarta) dan ke-27 di Yogyakarta. Setelah penantian dua kali kongres, akhirnya Medan dipilih menjadi tuan rumah dalam Kongres ke-27 di Malang. HB Muhammadiyah menaruh kepercayaan kepada Cabang Medan dengan mengeluarkan Ma’loemat HB lewat Suara Muhammadiyah, bahwa Kongres ke-28 Muhammadiyah di Medan akan dilangsungkan tanggal 19-25 Juli 1939.
Tak berselang lama, Comite van Ontvangst (CvO) atau Panitia Penerima Kongres dibentuk. Namun tiga bulan sebelum kongres, Cabang Medan bubar dan Panitia Penerima Kongres yang sudah dibentuk pun ikut bubar. Apa cerita?
Pasal pertama adalah krisis besar di dunia waktu itu. Dunia mengalami krisis sejak 1929 hingga 1939 yang dikenal sebagai The Great Depression atau istilah lain juga disebut dengan Krisis Malaise. Krisis ini bermula dari Amerika, lalu berdampak pada seluruh dunia, tak terkecuali Hindia Belanda atau Indonesia waktu itu.
Hindia Belanda tak luput dari krisis. Sebagai negara yang bertumpu pada komoditas premier terutama dari pertanian, Hindia Belanda dipaksa menelan pil pahit berupa merosotnya harga untuk produk ekspor. Namun di sisi lain tetap membayar harga yang standar untuk produk impor. Tak hanya di sektor perkebunan, sirkulasi ekonomi di sektor perdagangan kota juga mengalami kelesuan. Bahkan upah untuk kaum pekerja harian diturunkan sampai dengan 50%, sehingga berdampak pada penurunan daya beli dan permintaan.
Tak heran, situasi itu juga sedang dihadapi oleh warga Muhammadiyah, yang saat itu kebanyakan adalah para pedagang. Misalnya bahan baku untuk memproduksi batik semakin melonjak mahal, sementara daya beli masyarakat anjlok turun. Banyak waktu itu warga Muhammadiyah yang menjadi pedagang batik.
Krisis Besar menyebabkan Cabang Medan Bubar dan CvO yang dibentuk juga bubar. Akhirnya CvO dibentuk ulang dengan wajah-wajah baru. Panitia Penerima Kongres dengan wajah baru ini diterpa isu kurang sedap. Muncul desas-desus dari orang luar, bahwa kongres akan gagal, terlebih mereka ini kebanyakan bukan dari orang terpandang.
Namun, dua bulan sebelum kongres, Pemerintah Daerah termasuk Kerajaan Deli dan Langkat membantu menyukseskan agenda kongres nanti. Para warga dan anggota Muhammadiyah yang tadinya pesimis, kini kembali bersatu dan saling menguatkan untuk suksesnya Kongres ke-28 Muhammadiyah.
Kongres ke-28 di Medan akhirnya dilaksanakan. Bahkan, kongres itu berlangsung sangat meriah. Saat pembukaan Kongres ke-28 diperkirakan dihadiri lebih dari 10.000 orang yang datang dari seluruh penjuru Hindia Belanda. Salah seorang anggota HB Muhammadiyah saat itu, Yunus Anis menggambarkan kemeriahan Kongres ke-28 Muhammadiyah di Medan dengan mengatakan: “Bahwa dua mata dan dua telinga tidak cukup buat melihat dan mendengar Kongres Muhammadiyah ini.”
Namun, Kongres ke-28 Muhammadiyah di Medan tidak hanya tentang kemeriahan acara, tapi juga tentang peneguhan jati diri Muhammadiyah yang menginginkan Indonesia merdeka. Ceritanya, sebelum Kongres ke-28, Muhammadiyah masih menggunakan statuten yang disahkan dalam Kongres Besar Muhammadiyah ke-23 tahun 1934 di Yogyakarta. Dalam statuten tersebut di Artikel/Fasal 7 masih menggunakan kata Hindia Nederland.
Kemudian di fasal yang sama, setelah Kongres ke-28 Muhammadiyah di Medan tahun 1939, kata Hindia Nederland diganti menjadi “Indonesia”. Tak hanya itu, kata Afdeeling yang bisa diartikan Departemen juga diubah menjadi Cabang. Statuten ini berlaku sesudah usia Muhammadiyah 29 tahun yaitu sejak 18 November 1941. Pergantian kata Hindia Nederland menjadi Indonesia merupakan wujud komitmen Muhammadiyah dari niat suci untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka dari kolonialisme.
Dengan demikian, Muhammadiyah sudah menggunakan kata “Indonesia” sejak Indonesia belum resmi merdeka pada 1945. (*)
sumber: situs muhammadiyah


