Sabar

ilustrasi [foto & edit: indhie]

PALESTINA adalah hati yang terluka. Sakitnya dirasakan hingga ke Indonesia, ke Sumatera Utara, ke suatu kota, ke suatu kecamatan, ke satu kelurahan, ke satu rumah, ke satu kotak kaca televisi, ke seorang sosok, ke kedua matanya, ke pikiran, dan ke lubuk hatinya;  menusuk, menggores, menghancurkan, mengalirkan tangis, memacu jantung dan nafas,  mengepalkan geram, memuncak ke kemarahan, ke kemurkaan yang tak bisa dilampiaskan, Begitu sakitnya!

Bagaimana mungkin memahami energi miliaran kubik air bah yang terus dibendung dinding kokoh dan tebal, ditahan-tahan dan dilarang-larang dikeluarkan sekuat tenaga; sementara di seberang, di depan mata, si penyebab kemarahan dan kemurkaan itu, Israel terus mengeluarkan seringai ejekan dan serangan tanpa henti. Begitu sakitnya!

Sakit itu tak mungkin diobati. Mereka yang tak mengerti mengapa sakit, merinding, marah, sedih, air mata, dan kemarahan itu muncul dan membesar, tentu saja akan menanggapi dengan ringan, remeh, dan tentu saja leceh. Atau, akan ada yang begitu gampangnya mengatakan, “sabarlah”, seakan-akan kata itu tak mempunyai bobot sama sekali.

“Sabar” sebagai dinding hidup yang mengelola segala rasa yang ada di diri manusia bukanlah hal sepele dan main-main. “Sabar” yang dicipta dan diperintahkan Tuhan untuk dilaksanakan manusia-manusia ciptaannya, adalah kekuatan dahsyat yang mampu menjaga dan mengendalikan seluruh rasa manusia, baik yang positif yang mengarah ke kebaikan seperti cinta, kasih sayang, dan lain-lain, ataupun rasa yang negatif yang mengarah ke kerusakan seperti amarah.




Kata guru saya, puasa adalah instrumen paling utama untuk mendapatkan energi “sabar” itu. Dari kekuatannya, kekuatan puasa, yang bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan mampu mengendalikan perasaan manusia apapun jenisnya, terutama dorongan primitif manusia: makan, minum, dan berhubungan suami-istri; agaknya bisalah kita meraba-raba mengapa Rasulullah Muhammad (SAW) begitu lembut menyayangkan mengapa orang beriman hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga ketika dia berpuasa. Padahal, sabar itu masih hanya satu saja hikmah puasa.

Demikian saya, ah, saya termasuklah yang belum paham benar petuah guru saya itu; seberapa dalam dan luasnya makna atau bagaimana “sabar” dan “bersabar” itu. Apalagi menerapkannya…

***

Mereka yang seumur hidup menjajah taklah sama perasaannya dengan mereka yang seumur hidup dijajah. Indonesia lama benar dijajah dan itulah mengapa dia meletakkan soal “kemerdekaan” di alinea pertama yang membuka konstitusinya. Begitu sakitnya dijajah itu!

Hubungan itu kian mengental ketika yang mereka yang dijajah itu sama pula hatinya: mereka yang meyakini, mengucapkan syahadat, mengakui, menyatakan, menegaskan keilahian Allah dan kerasulan Muhammad. Hati –tempat segala rasa bermukim itu— mereka adalah sama, tak buang.

Maka, hati yang sama tak perlu lagi jaringan kabel, gelombang dan sinyal-sinyal yang bersifat material, untuk saling berhubungan. Seorang ibu tiba-tiba harus menangis ketika anaknya akan diopname di rumah sakit. Seorang istri sekonyong-konyong sumringah ketika di suatu malam yang begitu dingin suaminya mengetuk pintu dan membawakannya bubur ayam panas. Seorang kakek harus menahan-nahan dengan kuat sesak nafasnya ketika cucunya mengajaknya berlari-lari.

Itulah hubungan yang tanpa kepentingan. Hubungan yang tidak pernah melongok-longok ruang sejarah dan mencari jawab sebab-sebab material mengapa mereka mesti berhubungan. Suatu relasi keikhlasan: menyatu, tidak ada sekutu baginya dan di dalamnya. (*)


[iwan.indhie] – des ’24